Labilitas Pikiran Remaja

Mengatasi Pikiran NgeresBisa dibilang remaja adalah masa transisi dari dua dunia, yaitu dari dunia yang penuh permainan menuju dunia nyata. Yaitu tempat mencari bekal menuju alam yang ketiga setelah alam rahim, alam dunia yang sekarang, lalu alam akhirat. Jiwa atau pikiran remaja sangatlah labil. Saat kebanyakan orang boyong kesana, mereka ikut kesana, orang bergaya ini itu, ikut-ikutan ini itu, dan terkadang hanya dengan alasan gengsi mereka mengikuti pergaulan yang salah.

Hal ini memang wajar di kalangan remaja, pada umur-umur siswa SMA, mamang sangat rawan orang itu mengalami perubahan entah dari karakternya, persepsinya tentang sesuatu atau bahkan ideologi/kepercayaannya. Inilah yang sering disebut-sebut orang, masa-masa remaja adalah masa pencarian jati diri, kemana mereka mau melangkah untuk masa depannya.

Pada dasarnya diri mereka sendirilah yang menjadi penentu atau yang bisa memutuskan jalan mana yang akan dia pilih. Namun dalam realitanya banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan itu. Di sinilah sangat dibutuhkan dukungan serta pengarahan yang tepat. Misal salah satu fakor yang yang sangat mempengaruhi perubahan karakter pada diri seorang remaja adalah lingkungan. Dalam ilmu sosiologi, memang lingkunganlah salah satu faktor yang berperan penting dalam pembentukan karakter, dan tidak sedikit orang yang membenarkan hal itu, bahkan telah banyak yang membuktikannya.

Oleh karena itu sangatlah penting bagi orang tua yang memiliki anak usia remaja untuk tak bosan-bosan memperhatikan lingkungan pergaulan mereka. Tak sedikit, sekarang orang tua yang lalai akan hal itu. Akibatnya, banyak anak-anak remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas. Didukung pesatnya perkembangan teknologi informasi menjadi seakan dunia ini serasa bisa digenggam, pengaruh budaya barat dengan mudah datang dan mempengaruhi mereka.

Dalam hal ini tak mungkin kita mengelak dan menyalahkan perkembangan kecanggihan teknologi informasi yang begitu mudah digunakan. Kita harus bisa memilah-milah dan memfilter mana yang harus diikuti dan mana yang harus dibuang jauh-jauh.

Mungkin bagi para remaja yang tinggal di lingkungan pesantren tidaklah terlalu sulit untuk membentengi diri dari pergaulan bebas dunia modern ini, namun bagi mereka yang hidup di luar, terutama di kota-kota besar, bukan hal yang mudah untuk menghindari semua efek buruk itu.

Maka solusinya yaitu seperti tadi yang sudah disinggung di atas, semuanya kembali pada diri remaja itu sendiri. Sebagai seorang remaja terpelajar, seharusnya sudah bisa memilih mana yang baik mana yang buruk dan mana yang harus diikuti serta mana yang harus dihindari.

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *