Mendaki Bukit Sumping

DSC02669
Cuaca cerah pagi itu seakan ikut mendukung rencanaku dan teman-teman, kami akan berpetualang mendaki bukit sumping. Salah satu bukit yang berada dikaki gunung Slamet Jawa Tengah. Lokasi bukit itu cukup jauh dari pondok tempat kami tinggal dan menuntut ilmu tentunya. Butuh tiga jam jalan kaki untuk menuju bukit Sumping dari pondok. Sebenarnya tak ada yang terlalu menarik selain karena jambul yang dimiliki bukit itu. Jambul itulah yang membuat penasaran banyak santri untuk mendaki dan mencari tau apa sebenarnya jambul di bukit itu.
Kami mengambil waktu liburan praujian semester, seperti biasa ada waktu libur tiga hari sebelum ujian semester dilaksanakan, dua hari untuk pengambilan kartu ujian dan yang satu hari biasa disebut ‘hari tenang’, karena memang kebanyakan siswa menggunakan satu hari itu untuk menenangkan otak atau refreshing sebelum bertempur melawan soal-soal ujian.
Diawali dengan doa bersama berharap dapat kembali lagi ke pondok tanpa ada yang hilang satupun diantara kami bertujuh dan sedikit uang untuk jaga-jaga kalo kelaparan dijalan(padahal memang karena gak punya uang ), kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan penjara suci pukul 08.00. Melewati jalan setapak terasering persawahan khas perbukitan, kami menuju jembatan setapak(juga) yang menghubungkan desa sebelah. Jembatan ini asalnya hanyalah berfungsi untuk menyalurkan pipa air bersih dari mata air ‘fadhol’ atau biasa disebut tuk fadhol menuju pondok, namun telah lama dimanfaatkan warga sebagai jembatan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki untuk bolak-balik antar desa, khususnya siswa-siswa desa yang bersekolah di pondok, lebih sering melewati jalur ini.
Berniat cari tantangan, kami memilih untuk menyebarangi sungai Keruh yang sedang lumayan besar arusnya tanpa melewati jembatan. Di tengah derasnya arus sungaipun kami sempatkan untuk mengambil gambar (walaupun agak takut kalau terpleset dan kamera hanyut! ). Tapi justru ini jadi foto yang lumayan menarik.

Setelah berhasil menyebrangi sungai Keruh kami menuju desa Sidamukti dan berjalan lagi sekitar dua jam kami memasuki desa Gunung Sumping dan tepat di sebelah desa itu tempat yang kami tuju, bukit Sumping. Sempat kami bertanya warga sekitar, jalur mana yang harus kami pilih untuk bisa mendaki bukit itu. Seorang nenek lansia menunjukan jalannya dan berpesan agar kami hati-hati saat melewati bukit-bukit yang terjal, mungkin karena tau kami bukan warga setempat yang sudah biasa naik turun bukit itu. Entah karena kurang jelasnya penjelasan nenek tadi atau karena kita yang kurang memperhatikan, akhirnya kami salah mengambil jalan, yang harusnya kami belok kiri saat menemui batu besar, tapi kami malah belok kanan. Akibatnya kami harus mendaki lereng yang terjal tanpa jalan yang jelas. Saat melewati perkebunan warga kami sempat menjumapai warga yang sedang mengobati tanamanya, awalnya kami takut kena marah karena kami menerobos perkebunannya, tapi tanpa disangka orang itu justru bertanya kemana tujuan kita, kamipun serempak menjawabnya. Dengan sedikit arah yang jelas kami melanjutkan perjalanan meski tetap sesekali terpaksa merusak tanaman.

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *